Sabtu, 31 Juli 2010

Pohon Kebajikan

Oleh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen
(diterjemahkan oleh Dimas Tandayu dan Herry Mardian).
SEORANG MURID bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”

Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke tanah, namun buahnya justru terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup.

Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.
Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam qalb-mu, di dalam hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.

Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan ibadahmu harus seperti pohon. Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia memberikan buahnya untuk semua mahluk. Walaupun kau terikat pada dunia seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk, bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.”
-=-=-=-=-=-=-
:: English Version (A Seed Must Be Planted At The Correct Time By M. R. Bawa Muhaiyaddeen)

Negeri Seribu Rumah Suluk Naqsyabandiyah

PadangKini.com
Aliran tarekat Naqsyabandiyah yang lebih 1.000 pengikutnya terdapat di Sumatera Barat memiliki ‘keunikan' dengan berpuasa dan Idul Fitri lebih awal 2 hari dari jadwal Pemerintah.
Seperti apa suasana tarekat ini? Kami membawa Anda ke kantong aliran tarekat Naqsyabandiyah di sepanjang tepian Sungai Rokan, Provinsi Riau. Di sini tempat ribuan rumah suluk yang didirikan jemaah Naqsyabandiyah. Abdul Wahab Rokan, tokoh yang membawa aliran Naqsabandiayah ke Asia Tenggara lahir di situ. Tulisan ini hasil liputan Febrianti dari PadangKini.com beberapa bulan lalu. (Redaksi)


Selasa, 27 Juli 2010

Panteisme dan Wahdatul Wujud

Dunia tasawuf maupun irfan erat kaitannya dengan istilah-istilah. Istilah-istilah ini sangatlah penting demi tercapainya pemahaman yang menyeluruh serta komplit dari suatu pembahasan tasawuf atau pun irfan. Apabila pemahaman kita akan suatu istilah itu salah, konsekuensinya hal itu akan berdampak pada pemahaman kita selanjutnya yang akan membawa kita jauh dari arti yang sebenarnya diinginkan.

Berangkat dari asumsi di atas, pada tulisan ini akan dipaparkan dua istilah atau konsep yang sering digunakan dalam dunia tasawuf, yakni panteisme dan wahdat al-Wujud. Dalam penggunaannya, kedua konsep ini oleh beberapa orang diartikan memiliki arti yang sama. Namun apakah benar kedua konsep ini memiliki arti yang sama? Tulisan di bawah ini mencoba menjelaskan dan membedakan antara kedua konsep tersebut.

Panteisme
Panteisme adalah doktrin yang mengidentikkan Tuhan dengan manusia atau alam. Dengan kata lain bahwa doktrin ini menghilangkan perbedaan antara Tuhan dengan ciptaan-Nya, dan lebih jauh lagi meniadakan transendensi makhluk dengan khalik. Doktrin ini memahami bahwa antara Tuhan dengan makhluk merupakan suatu keserupaan bahkan kesatuan.

Panteisme merupakan istilah yang berasal dari Barat. Istilah ini digunakan oleh mereka guna memahami makna doktrin-doktrin ittihad, hulul, dan wahdat al-wujud. Sebenarnya istilah ini sampai kepada mereka akibat pemahaman yang salah dari sekelompok sarjana seperti Ibn Taymiyyah, al-Biqa’i dan Abd al-Rahman al-Wakil yang menafsirkan wahdat al-wujud sebagai menyamakan Tuhan dengan alam, yakni bahwa wujud Tuhan adalah wujud alam dan wujud alam adalah wujud Tuhan.

Panteisme berasal dari pemahaman tidak lengkap tentang wahdat al-wujud yang terutama hanya melihat satu dari dua sisi dari konsep ini. Sebagaimana yang nanti akan dijelaskan, wahdatul wujud memiliki dua sisi penting, yakni sisi tasybih (keserupaan) dan sisi tanzih (ketidakdapatdibandingkan). Sedangkan panteisme dikatakan tidak lengkap karena hanya melihat sisi tasybih saja , tanpa melihat sisi yang lainnya, yakni sisi tanzih .

Wahdat al-Wujud

Wahdat al-Wujud yang merupakan sebuah doktrin dari Ibn Arabi, secara bahasa bermakna kesatuan wujud. Adapun makna terminologisnya adalah bahwa tidak ada sesuatu pun dalam wujud kecuali Tuhan dan bahwa wujud selain-Nya hanyalah ada dikarenakan manifestasi wujud-Nya. Dengan kata lain bahwa wujud selain-Nya adalah refleksi atau berasal dari wujud Tuhan. Satu-satunya eksistensi sejati adalah milik Yang Satu dan Yang Satu inilah yang tampak dalam semua manifestasi.[1]

Ibn Arabi memandang bahwa dunia dan ciptaan Tuhan yang lainnya merupakan panggung tempat berbagai nama Tuhan dapat mementaskan perannya. Ciptaan ini sengaja Tuhan ciptakan agar manusia tahu betapa berperan dan berkuasanya Ia. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku (Allah) adalah wadah tersembunyi, dan aku cinta untuk diketahui, maka aku ciptakan suatu ciptaan.” Dalam bahasa yang lebih sederhana, Allah ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya, oleh karena itu Allah menciptakan alam ini. Dengan kata lain bahwa alam ini ibarat cermin yang merefleksikan Tuhan. Sehingga dengan asumsi yang demikian, tak heran jika Ibn Arabi secara positif memandang bahwa alam dan manusia adalah manifestasi (tajalli) Tuhan.

Berangkat dari pemahaman ini, maka timbullah wahdah (kesatuan) wujud. Yakni bahwa walaupun di dalam alam ini terdapat banyak wujud, namun sebenarnya adalah satu, karena kesemuanya berasal dan ada disebabkan wujud-Nya. Oleh karena itu, dalam hal ini yang merupakan wujud hakiki adalah wujud Tuhan, dan selain-Nya hanyalah bayangan-Nya saja. Dan dengan pergertian yang demikian, Ibn Arabi berusaha menyampaikan kita pada sebuah kesimpulan bahwa Tuhan sangatlah dekat dengan makhluknya walaupun tanpa menghilangkan perbedaan antara keduanya. Tentunya hal ini sangatlah berbeda dengan panteisme yang secara jelas dan terang-terangan menghilangkan perbedaan antara keduanya.

Lebih jauh lagi, sebagimana yang sempat disinggung di atas, dalam wahdat al-wujud terdapat tasybih (keserupaan) dan tanzih (ketidakdapatdibandingkan). Keduanya merupakan istilah penting dalam doktrin wahdat al-wujud Ibn Arabi. Tasybih yakni bahwa Tuhan adalah identik, atau lebih tepatnya serupa dan satu dengan alam ~walaupun keduanya tidak setara~ karena Dia, melalui nama-nama-Nya, menampakkan diri-Nya dari dalam. Akan tetapi dilihat dari sisi tanzih, Tuhan sama sekali berbeda dengan alam karena Dia adalah Zat Mutlak yang tidak terbatas di luar alam nisbi yang terbatas.[2] Terkait hal ini, Ibn Arabi memiliki suatu ungkapan yang sarat akan makna, huwa la huwa (Dia dan bukan Dia).

Kesimpulan

Sebenarnya pangkal yang menyebabkan terjadinya dua penafsiran terhadap wahdat al-wujud adalah tidak lengkap dan sempurnanya pandangan beberapa orang terhadap doktrin ini. Yakni bahwa mereka melihat doktrin ini tidak secara utuh dan hanya secara partikular saja. Seperti sempat disinggung di atas, bahwa konsep wahdat al-wujud memiliki dua sisi, yakni; tasybih dan tanzih. Namun mereka hanya melihat satu sisi, yakni sisi tasybih saja. Oleh karena itu, tak heran jika kemudian ~disebabkan hanya berangkat dari pemahaman ini saja~, maka muncul penafsiran yang berbeda. Penafsiran inilah yang kemudian dikenal dengan panteisme.

Lebih jauh lagi, dari sedikit pemaparan di atas, setidaknya kita sudah memperoleh perbedaan esensial dan mendasar antara panteisme dan wahdat al-wujud. Sebagaimana disebutkan di atas, panteisme menafikan transendensi Tuhan dengan meniadakan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk, dan pada saat yang sama mengidentikkan antara keduanya. Sedangkan wahdat al-wujud, sebaliknya justru mempertahankan transendensi Tuhan. Perlu diketahui bahwa doktrin wahdat al-wujud menekankan tidak hanya imanensi Tuhan, tetapi juga transendensi-Nya.[3]

Kesatuan antara tasybih dan tanzih yang dalam istilah Ibn Arabi dikenal dengan al-Jam’ bayna al-adhdhad merupakan pemahaman yang benar serta utuh terhadap doktrin wahdat al-wujud, sedangkan pemahaman yang hanya melihat satu sisi, yakni tasybih serta mengabaikan sisi lainnya (tanzih) adalah pemahaman yang cacat.

[1] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman Ke Kesatuan Wujud, PT Raja Grafindo Persada, 2001, h. 27.
[2] Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial, Serambi, 2003, h. 27.
[3] Ibid, h. 27.

Daftar Pustaka
Noer, Kautsar Azhari. 2003, Tasawuf Perenial, Jakarta: Serambi.
Hirtenstein, Stephen. 2001, Dari Keragaman Ke Kesatuan Wujud, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Burckhardt, Titus. 1984, Mengenal Ajaran Tasawuf, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

by :

Selasa, 13 Juli 2010

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Ditulis oleh Dewan Asatidz
Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.

Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

Setelah tahap pengosongan dan pengisian, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wataala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhoan-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai maâ'rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Maâ'ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.

Wallahu a'lam

Rizqon Khamami.

Source :

Cakra-Cakra Dalam Tubuh Tenaga Dalam

Dalam pengenalan dasar belajar ilmu tenaga dalam, biasanya akan diajarkan tentang berbagai letak pusat energi tubuh serta fungsi-fungsinya. Pusat-pusat energi dalam tubuh manusia ini biasa disebut dengan cakra (chakra). Cakra dianggap juga sebagai pusat simpul-simpul urat syaraf yang membentuk lingkaran dan menyerupai cakram.

Menurut para ahli Tenaga Dalam, berbagai Cakra atau pusat energi tubuh manusia ini mempunyai fungsi untuk dapat mengalirkan atau memancarkan berbagai energi hidup (energi positive) manusia dalam bentuk gelombang-gelombang elektromaknetik yang selanjutnya disebut sebagai Aura tubuh manusia.

Selanjutnya ada pertanyaan tentang ada berapa cakra dan di mana letaknya di dalam tubuh manusia?

Beberapa ahli atau guru Tenaga Dalam, ada yang mengatakan kalau tubuh manusia mempunyai 7 cakra utama sebagai pusat energi psikis manusia yang disebut The Seven Chakra of body fisical power, antara lain:
Spoiler for CHAKRA:
1. Cakra Dasar (Basic Chakra). Cakra ini terletak diujung sumsum tulang belakang (dekat tulang Coccygeus), merupakan pusat energi yang dapat menyebar kesetiap Cakra di dalam tubuh manusia. Ada yang menyebut cakra ini sebagai pusat energi kundalini manusia.
2. Cakra Pusar (Navel Chakra) Terletak di daerah pusar. Cakra ini juga disebut-sebut sebagi pusat energi kundalini.
3. Cakra Pankreas Terletak di daerah Pankreas.
4. Cakra Jantung ( depan dan belakang ) terletak di daerah jantung.
5. Cakra Tenggorokan (Larynx Cakra) terletak di daerah tenggorokan.
6. Cakra Adjna Terletak didaerah antara kedua alis.
7. Cakra Mahkota terletak di ujung ubun-ubun (Crown Head) yang merupakan pusat inti kesadaran tertinggi di dalam tubuh manusia.
Ke-7 pusat cakra utama tubuh manusia di atas juga dianggap sebagai tempat lalu lintas pikiran dan perasaan manusia dan memiliki peran secara langsung mempengaruhi dan mengatur seluruh fungsi tubuh manusia seperti: metabolisme, sirkulasi, eliminasi, reproduksi, dan lain sebagainya. Karenanya, kalau ke-7 pusat cakra utama tubuh manusia ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka seluruh energi positive dalam cakra tubuh akan mengalir secara bebas dan terbuka yang akan menciptakan suatu keadaan seimbang (equilibrium) yang sehat dalam sistem metabolisme peredaran energi hidup tubuh manusia baik jasmani maupun ruhani.

Benar atau pun tidaknya pemahaman di atas, silahkan anda mendalaminya secara langsung melalui beberapa guru Tenaga Dalam yang membuka kursus pengajaran Tenaga Dalam.

Menurut kami sendiri, Jika melihat letak-letaknya dalam tubuh, maka ke-7 cakra utama yang disebutkan di atas tidak jauh bedanya dengan organ-organ penting tubuh manusia dalam istilah kedokteran medis, hanya saja berbeda dalam istilah atau nama.

Selain itu, dalam pembelajaran dasar Ilmu Tenaga Dalam, ke-7 cakra utama manusia di atas, lebih diartikan sebagai makna-makna psikis yang tentunya tiap perguruan akan berbeda sesuai pengalaman psikologis masing-masing. Misal, satu perguruan Tenaga Dalam mengatakan kalau cakra jantung akan mengeluarkan energi aura berwarna putih, maka perguruan Tenaga Dalam lainnya, mungkin akan mengatakan dengan warna yang berbeda, bisa kuning, bisa hijau, dan seterusnya. Intinya adalah jika organ tubuh anda sehat, maka dimungkin jiwa anda juga akan sehat. Karenanya, dengan belajar dan mendalami Ilmu Tenaga Dalam, anda mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih sehat baik jasmani maupun ruhani.


Source :

Senin, 12 Juli 2010

Rahasia Do’a 999% Mustajab

Do’a atau berdo’a tidak asing lagi bagi telinga kita. Hampir semua agama dan kepercayaan mengajarkan kepada pengikutnya untuk senantiasa bedo’a. sebab do’a adalah pengingat ketika keberhasilan dapat diraih,maka kita sadar itu merupakan karunia Alloh, jika kegagalan yang datang, maka do’a sebagai benteng dari putus asa, karena dari situ kita tahu betapa lemahnya kita,tanpa pertolongan-Nya mustahil kita mampu menjalani hidup ini.

Sebagian orang menggap do’a sebagai “pesugihan” yang halal, mungkin anda sudah mencari do’a manjur,do’a paling mujarab,do’a paling ampuh, atau juga mendatangi tempat berdo’a yang maqbul, mungkin juga sudah menyempatkan waktu untuk memasuki waktu mustajabnya do’a.

* Pernahkah kita merasa kalau do’a kita ditolak oleh Alloh?

Berbagai do’a sudah dilantunkan, bermacam cara bahkan tidak jarang kita meluangkan waktu, mencari saat dan tempat yang konon mustajab untuk berdo’a, namun semua itu nyaris tidak membawa hasil, bahkan yang lebih tragis, nikmat yang kita harapkan malah laknat yang datang. Kehidupan yang layak, rejeki yang melimpah,isteri yang cantik,kendaraan mewah selalu kita panjatkan agar itu berpihak pada kita, namun bukannya mendekat, malah menjauh.

* Rahasia do’a makbul

Setelah bertahun-tahun terombang-ambung diantara harapan dan putus asa, kadang pertanyaan- pertanyaan datang bertubi-tubi. Kenapa Alloh masih enggan mengabulkan do’aku? Apa salahku? Kurang apalagi? Puasa sudah,berdo’a sudah,beramal sudah, tapi koq masih begini saja.

Ada 3 tahapan yang harus kita lakukan agar do’a kita maqbul, bahkan dijamin pasti insya Alloh manjur :


*Syukur

Mungkin kita bertanya, hidup saja susah apa yang mau disyukuri? Inilah kesalahan kita. Coba kita renumgkan ! andai kita mempunyai anak, anak kita minta mobil-mobilan, karena kita sayang kita kasih, tapi anak itu lupa membawa pulang mainannya ketika bermain dengan kawan-kawannya. Hilanglah mainan itu. Keesokan harinya dia merengek minta dibelikan lagi,kita pun membelikannya, dan kejadian pertama terulang lagi. Lantas jika anak kita itu minta lagi apa jawab kita? Apa akan langsung membelikannya? Tentu kita akan marah bukan?

Memang Alloh tidak seperti kita, namun kita hendaknya tahu diri, bagaimana Alloh akan mengabulkan do’a kita jika nikmat yang sudah ada saja tidak pernah disyukuri, ini namanya tidak tahu berterima kasih.

Dan yang paling penting adalah ; do’a itu bisa di ijabah atau ditolak oleh Alloh, tapi syukur pasti akan diterima ( bagaimana syukur yang benar? akan dilanjutkan dalam tulisan berikutnya , insya Alloh).

Jika kita bersyukur, maka Alloh akan menambahi anugerah-Nya kepada kita tanpa kita minta sekalipun. Alloh berfirman ; “Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” QS. An Nahl : 18.

*Malu

Sepantasnya kita malu, mungkin kita tidak diberi harta lebih, tapi kita masih diberi akal, tangan, kaki dan yang lebih penting kita masih hidup, tapi kenikmatan2 itu sekan tidak berarti apa-apa bagi kita, kita mendefinisikan nikmat itu hanya berupa harta,tahta,wanita.

*Istighfar

mohonlah ampun kepada Alloh, atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dengan sebenar-benarnya.
Insya Alloh dengan di awali dan dilandasi 3 hal tersebut do’a kita akan di kabulkan oleh Alloh. Dengan catatan semua itu dilakukan dengan benar tanpa direkayasa.

Source :

Hizib Dalam Tasawuf

Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :

1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang.
2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu
3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka
4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
5. Surat Al Mujaadilah ayat 19 :
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi.
6. Surat Mujadiilaah ayat 22 :
Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung.
Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at.

Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri.

Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh.

Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut :
Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh.

Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam.

Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung.
Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam.

Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.
Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya.

Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya.

Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.

Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thariqah syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.
Source :

Minggu, 11 Juli 2010

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahawa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?

Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahawa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

JAWAPAN
Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surah. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeza-beza itu pasti memiliki dimensi yang berbeza pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan getaran dan darjat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeza. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeza dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu bererti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat neraka tertentu.

Jika Naar kita maknakan secara umum, justeru menjadi zalim, kerana faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak boleh disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeza dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surah Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeza. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, kerana didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeza. Kerana yang terakhir ini berhubungan dengan kelayakan keimanan hamba kepada Allah, bahawa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahawa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kelayakan keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Roh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fizik dan siksa fizik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kelayakannya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.

Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga mahupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, kerana perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualiti moral seorang pekerja di tempat kerja juga berbeza-beza, walau pun teknik dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari wang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan mencintai pekerjaan dan mencintai ketuanya tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualiti moral dan jadual kerjanya yang berbeza. Bagi seorang ketua yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, dibandingkan dengan para pekerja yang hanya mencari untung belaka, sehingga mereka bekerja tanpa roh dan spirit yang luhur.

Kerana itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeza dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeza dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual haiwan.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeza-beza. Kerana nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fizik dengan kenikmatan fizik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan simbol berbeza-beza, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kelayakan yang bersifat lahiriyah mahupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka persepsi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu haiwaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang ideal dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang boleh menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kelayakan syurgawnya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Kerana hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “kerana Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira kerana syurgaNya.

Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang boleh wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda boleh merenungkan sendiri, betapa tundingan-tundingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, boleh terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

Source :

Tarekat Awam Dan Tarekat Khas


Dalam wancana Syadziliyah ada tahap dimana, para penempuh jalan Sufi melakukan melalui dua cara:

Cara pertama melalui cara yang ditempuh khalayak awam (umum) dan ada pula yang ditempuh oleh khalayak khusus (Khas). Pandangan awam mahupun Khas di sini, tidak bersifat sosiologi mahupun intelektual. Tetapi bersifat spiritual. Penentuan seseorang melalui sistem Awam atau pun Khas, hanyalah bentuk penempuhan itu sendiri. Sebagaimana dalam Al-Qur'an ada istilah al-Muhibbin dan Al-Mahbubin, ada ash-Shiddiqin dan ada pula ash-Shadiqin. Konteks lain dari istilah Sufi, ada proses yang bersifat Al-Murid ada juga dengan proses Al-Murad. Jadi kategori di atas hanyalah kategori proses penempuhannya. Kerana itu disarankan Mursyid Kamil Mukammil untuk membimbing, masing-masing terhadap kedua proses di atas.

Dalam Al-Mafakhir, dikutip ucapan asy-Syadzily tentang kategori penempuhan di atas, beliau mengatakan secara panjang lebar:

"Perlu diketahui bahawa pengetahuan yang menurut pemiliknya dianggap terpuji, hal itu dianggap gelap bagi ahli hakikat. Ahli hakikat ini adalah mereka yang yang menyelami Lautan Dzat dan kedalaman Sifat-sifat. Di sana, mereka tanpa memiliki hasrat. Dan mereka itulah kalangan elit atau Khas yang Luhur. Yaitu mereka yang menyertai martabat para Nabi dan Rasul, walaupun martabat para Nabi dan Rasul itu lebih mulia. Sebab mereka ini mempunyai bahagian dari martabat itu, kerana baik Nabi mahupun para Rasul dari ummat ini, pasti mempunyai pewaris, dan setiap pewaris mempunyai bahagian dari peninggalan warisannya. Nabi saw, bersabda, " Para Ulama itu adalah pewaris para Nabi." Dan tentunya para pewaris itu memiliki kedudukan yang diketahui dari yang mewariskannya, dari segi pewarisan ilmu pengetahuan dan hikmah. Namun bukan dari segi perwujudan martabat dan keadaan anugerah rohani (al-maqam wal-haal). Sebab maqam para Nabi itu terlalu luhur untuk diraih oleh selain para Nabi sendiri, sementara setiap pewaris mendapatkan sebahagian maqam itu menurut warisan yang diterimanya. Kerana Allah swt, sudah berfirman, "Niscaya benar-benar Kami utamakan sebahagian Nabi atas sebahagian yang lainnya". Begitu juga Allah memberikan posisi keutamaan para wali satu sama lainnya berbeza.

Para Nabi sentiasa menyertai Pandangan Allah, dan setiap pandangan yang melimpah dari pandangan para Nabi akan tertuang menurut kadarnya.

Sementara setiap Wali memiliki muatan yang spesifik, sehingga dunia Wali terbahagi menjadi dua:

Satu bahagian disebut sebagai para Abdal (pengganti) bagi para Nabi Bahagian kedua, adalah pengganti para Rasul.

Abdal para Nabi disebut sebagai kalangan Shalihun, sedangkan Abdal para Rasul disebut ash-Shiddiqun. Antara Shalihun dengan Shiddiqun, posisi keutamaannya sama dengan antara para Nabi dan Rasul. Maka dari mereka, dan dari mereka pula. Hanya saja diantara mereka itu adala kelompok khusus yang mendapatkan substansi materi langsung dari Rasulullah saw, yang mereka saksikan dengan pandangan keyakinan.

Tetapi jumlah kelompok sedikit, namun dalam jumlah perwujudan hakikatnya cukup banyak. Setiap Nabi dan Wali selalu bermula dari substansi Rasulullah saw,. Karena diantara para Wali itu ada yang menyaksikan dengan pandangannya, dan sebahgian mereka yang ada yang tersembunyikan pandangan dan substansi materinya. Mereka malah fana' dalam anugerah yang turun padanya dan tidak tersibukkan dengan mencari substansi materinya itu, bahkan , mereka itu tenggelam dalam anugerah rohani (hal) sampai tidak lagi melihat kecuali hanya pada "waktunya".

Diantara mereka ada yang terlimpahi melalui Nur Ilahi, sehingga mereka dapat memandang melalui cahaya itu, dan mengenal urusannya secara hakikat. Dan yang demikian itu merupakan karomah bagi mereka, yang tidak boleh diingkari kecuali oleh mereka yang memang mengingkari karomah para Wali. Kita semua mohon perlindungan dari keingkaran terhadap sesuatu setelah kita mengenal sesuatu itu. Mereka itu menempuh Thariqat yang tidak ditempuh oleh yang lainnya.

Sebab jalan penempuhan (Thariqat) itu ada dua. Thariqat bagi kalangan Khas, dan Thariqat bagi kalangan publik (umum). Dimaksud dengan Thariqat Khos itu, adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan yang Dicintai Allah (al-Mahbubin), yang merupakan Abdal para Rasul. Sedangkan Thariqat Umum adalah Thariqat yang ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin), yaitu Abdal para Nabi. Semoga Salam Sejahtera bagi mereka semua.

Thariqat Khas adalah Thariqat yang sangat elit yang sulit dicerna akal biasa, dan jauh sekali yang mampu menguraikan isinya. Bagi anda cukup dengan Thariqat Umum, yaitu jalan penempuhan melalui satu tahap ke tahap lainnya yang lebih luhur hingga sampai pada suatu tahap tertentu, yaitu , "tempat duduk yang benar di sisi Raja Yang Maha Berkuasa".

Jejak pertama yang harus dtempuh oleh seorang pecinta (al-Muhibb) adalah menaiki suatu tahap ke tahap yang lebih tinggi, yaitu Nafsu. Ia tersibukkan oleh sebab akibat di sana dan bagaimana seseorang mengolah nafsunya (mengendalikannya) sampai tangga kema'rifatan, Manakala ia telah mencapai tahap ma'rifat dan meraih hakikat di sana, ia akan mendapatkan pencerahan cahaya di tahap kedua, iaitu Kalbu. Dalam tahap ini ia berada dalam kesibukan "bersiasat" dalam dunia ma'rifatnya. Manakala tidak ada lagi yang tersisa tahapnya, ia menaiki tangga ketiga, yaitu Ruh. Lalu ia bersibuk diri dengan Siasat Ruh dan kema'rifatannya. Apabila ma'rifatnya sudah sempurna maka sedikit demi sedikit mengalirlah cahaya-caha keyakinan, sampai pandangannya lupa dengan luapan-luapan cahaya itu, sampai keyakinannya benar-benar jelas, sehingga ia tidak lagi mampu berfikir terhadap pencahayaan tiga tahap yang berlalu itu. Maka disanalah ia bebas berhasrat sesuai dengan kehendak Allah . Lalu Allah melimpahkan melalui Nur Akaly yang asli dalam Nur keyakinan. Maka ia menyaksikan adanya yang dimaujudkan tanpa batas dan pangkal, jika disandarkan pada si hamba tersebut. Sehingga lenyaplah seluruh jasad ini didalamnya.

Kadang-kadang seperti tabung yang terlihat di udara melalui cahaya matahari, maka, ketika cahaya matahari itu membakar, tabung itu tidak lagi tampak bekasnya.

Matahari itu adalah akal yang lazim, yang bisa memperlihatkan obyek, setelah terpenuhi oleh materi cahaya keyakinan. Apabila seluruh cahaya itu lenyap, maka seluruh jagad itu sirna pula, dan yang ada hanyalah yang maujud ini. Kadang tampak ada, kadang sirna, sampai ketika ia menghendaki kesempurnaan, ia dipanggil oleh panggilan yang lembut, tanpa suara, yang hanya bisa difahami saja. Hanya saja yang bisa menyaksikan selain Allah, tiada sesuatu yang lain selain Allah. Maka, disitulah ia bangun dan sedar dari "mabuk"nya. Lalu bermunajat, "Oh Tuhan, tolonglah daku....,, tolonglah aku...sungguh aku telah musnah..."

Dari sana ia tahu dengan seyakin-yakinnya, bahawa siapapun tidak boleh selamat dari lautan itu melainkan kerana pertolongan Allah. Disaat seperti itu dikatakan padanya, "Maujud ini adalah Akal, seperti yang disabdakan Rasulullah saw, bahawa yang pertamakali diciptakan oleh Allah adalah akal." Pada hadits lain dijelaskan, "Allah berfirman pada akal itu, ‘Menghadaplah!' dan akal itu pun menghadap."

Hamba ini lantas dianugerahkan rasa hina dan keselamatan melalui Cahaya Maujud itu, sebab batas dan ukurannya tiada terkira, sehingga ia tak mampu mengenalnya. Dikatakan padanya, "Betapa jauhnya, batas itu tidak bisa dikenal kecuali bersama Allah." Lantas Allah Yang Maha Agung nan Luhur memberikan petunjuk melalui Cahaya Asma'-Nya, muncullah bagai sekelebat kedipan mata, atau seperti yang dikehendaki-Nya (Kami mengangkat darjat orang yang Kami kehendaki), kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Ruh Rabbany, lalu ia pun mengenal Maujud ini. Hamba tadi naik ke medan Ruh Rabbany, tiba-tiba sinar seluruh hiasan keindahan yang menyertainya, lalu secara sendirinya ia tersunyikan, tinggalah segala yang ada ini menjadi Maujud. Kemudian Allah menghidupkannya melalui Cahaya Sifat-sifatNya, lalu dengan kehidupan itu Allah menaikkan ke dalam pengenalan Maujud Rabbany itu.

Ketika hamba terurai dari dasar-dasar SifatNya, hampir-hampir ia sebutkan, "Dialah Allah". Tiba-tiba ia ditemui oleh Pertolongan Azaly, lalu muncul panggilan, "Ingatlah! Bahawa maujud itu adalah yang tiada boleh disifati oleh siapa pun, tidak boleh pula dimengerti melalui ibarat apa pun melalui Sifat-sifatNya melainkan oleh ahlinya, namun melalui cahaya lain yang mengenalnya." Kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Sirr Ruh (rahsia batin Ruh), tiba-tiba ia sudah duduk di pintu medan Sirr.

Hasratnya mengembang untuk mengenal Maujud itu yang tidak lain adalah Sirr itu sendiri. Namun, ia telah buta untuk mengenalnya, lalu seluruh sifat-sifatnya sirnya, seakan-akan tak ada sesuatu pun padanya. Kemudian Allah melimpahkan Cahaya DzatNya, dengan limpahan Kehidupan Keabadian yang tiada hingga. Semua yang diketahui memandang dengan Cahaya Kehidupan ini, lantas seluruh penghuni Maujud ini menjadi Cahaya yang memancar pada segala yang ada, tidak lagi ada yang bisa disaksikan selain Dia. Muncullah panggilan dari jarak yang sangat dekat saat itu: "Janganlah terpedaya dengan Allah, kerana yang Dicintai justru dari tirai (hijab), dari Allah, beserta Allah. Sebab mustahil Allah dihijabi oleh selain Allah." Lalu ia hidup dengan kehidupan yang dititipkan oleh Allah di dalamnya. Hamba itu lalu berkata, "Aduh, Tuhanku....BesertaMu, DariMu, KepadaMu, betapa tak berdayanya daku. Sesungguhnya aku memohon perlindungan padaMu dariMu, sampai aku tidak melihat lagi selain DiriMu."

Itulah jalan yang tanjakannya menuju Hadirat Allah Yang Luhur, yaitu jalan ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin) , sebagai para Badal Nabi.

Sedangkan yang dianugerahkan pada salah seorang dari mereka setelah itu, tak satu pun orang yang boleh mengukur atau mendeskripsikannya.

Segala Puji hanya bagi Allah, atas segala nikmat-nikmatNya, dan shalawat serta salam semoga terlimpah padaMuhammad pengunci para NabiNya.

Sedangkan Thariqat kalangan Mahbubin (mereka yang dicintai-Nya) adalah langsung dari Allah, kepada Allah. Sebab mencapai jalan ini mustahil selain dari Allah Sendiri. Pijakan pertamanya, adalah tanpa pijakan itu sendiri, untuk mendapatkan Cahaya DzatNya. Mereka ini disembunyikan dari hamba-hamba-Nya, kerana ia dianugerahi rasa cinta terhadap ketersembunyian. Segala amal-amal yang shaleh sangat kecil di matanya, sementara yang terlihat besar adalah Tuhannya bumi dan langit.

Ketika dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba mereka mendapati dirinya berpakaian baju ilmu. Lalu mereka memandang, tetapi yang tampak, mereka itu bukan mereka. Lantas ia tertimpa suatu kegelapan yang menyembunyikan pandangan mereka, bahkan wahananya menjadi wahana tiada, tanpa sebab-akibat. Seluruh aturan sebab akibat terhempas, dan seluruh yang disebut sebagai yang baru sirna tanpa sesuatu yang baru, bahkan tak ada wujud lagi. Yang jelas justru tiada lagi, kecuali hanya Ketiadaan Murni itu sendiri, tanpa sebab dan akibat. Dan segala yang tanpa sebab langsung, berarti tidak ada obyek yang bisa dikenalnya. Segala yang yang bisa diketahui telah sirna, dan segala rumus telah musnah, sirna yang tidak diketahui kenapa dan bagaimana. Yang ada hanyalah "Substansi" yang ditunjukkan, bahwa Dia tiada bisa disifati dan tiada Sifat itu sendiri, bahkan tiada lagi Dzat. Segala Predikat, Asma' dan Sifat telah sirna, maka tiada Nama, tiada Sifat dan tiada Dzat. Maka, muncullah "Yang" senantiasa Muncul, tiada sebab-akibat. Tetapi Dia menampakkan Rasia BatinNya, bagi DzatNya di dalam DzatNya, melalui pemunculan yang tiada awalnya. Namun Dia memandang dari DzatNya, bagi DzatNya, dengan DzatNya di dalam DzatNya. Para hamba itu hidup melalui PemumunculanNya dengan kehidupan yang tiada sebab-akibat di dalamnya. Lalu tampillah dengan seluruh Sifat-sifat yang Indah, yang tiada tahu mengapa dan bagaimana.

Jadilah ia yang pertama muncul, tiada kemunculan sebelumnya. Lantas menemukan segala sesuatu bersama Sifat-sifat-Nya, kemudian muncullah cahayaNya di dalam cahayaNya.

Pertama-tama yang muncul adalah SirrNya (rahasia batin), lalu muncullah (melalaui Sirr itu) kalbuNya, lantas muncul AmarNya melalui SirrNya di dalam SirrNya. Lalu muncullah segala dzat melalaui AmarNya di dalam Cahaya al-Qalam melalui Cahaya al-Qalam. Kemudian muncullah AkalNya dengan AmarNya dalam AmarNya, dan muncullah (dengan itu ) ArasyNya di dalam Cahaya LauhNya dengan Cahaya Lauh itu sendiri. Lantas muncullah RuhNya melalui AkalNya, dan melalui RuhNya muncullah KursiNya di dalam Cahaya ArasyNya melalui Cahaya Arasy itu sendiri. Lalu muncul jiwanya melalui kalbuNya, lalu muncullah melalui jiwaNya, orbit bagi kebajikan dan keburukan di dalam Cahaya HijabNya melalui Caha Hijab itu sendiri. Lalu muncul Jisim melalui JiwaNya di dalam JiwaNya, maka muncullulah melalui Jisim itu seluruh Jisim Alam Kasar baik di bumi maupun di langit.

Kesimpulannya, setiap alam kasar berada dalam Cahaya orbit melalui Cahaya orbit. Sehingga pijakan pertamanya bagi hamba tercinta yang sunyi ini adalah membuang jiwanya pada ketiadaan, yaitu pembuangan dalam wahana tiada sebab akibat. Yaitu menghadap pada ketiadaan melalui pengguguran sifat awwaliyah, akhiriyah, dzahiriyah dan bathiniyah.

Sehingga yang terjadi adalah menghadapkan sifat ketiadaan pada ketiadaan itu sendiri. Erti sifat ketiadaan bagi ketiadaan itu adalah segala hal yang berakhir pada pangkal tiada aksioma sebab akibat. Yaitu menyaksikan Allah Ta'ala seperti tiada penyaksian yang berhubungan, tetapi tidak terpisah. Penyaksiaan yang tiada sedikitpun adanya peluang kealpaan, dimana dalil pembuktiannya tidak ada aksioma sebab akibat di dalamnya mahupun baginya, yaitu penyaksian Ketiadaan Murni.

Erti dari tidak adanya pembuktian sebab akibat yaitu kelaziman tiadanya penyaksiaan terhadap makhluk-makhluk yang bisa disaksikan, kemudian secara berurutan, dari ketiadaan murni itu, yaitu Mabuk dalam Lupa yang abadi, bahkan lupa terhadap kehidupan yang ditunjukkan dalam wacana pada posisi ini.

Ternyata, jalan hamba ini adalah Jalan Luhur, atau apa yang disebut dengan terlempar ke dalam Lautan Dzat, lantas ia tiada, lalu dihidupkan dengan kehidupan yang baik, kemudian dipindahkan - tanpa harus pindah - ke Lautan Sifat, kemudian Lautan Amar Rabbany, kemudian Lautan Sirri, lalu Lautan al-Qalam yang masih asli , lantas Lautan Ruh, kemudian Lautan Kalbu, lalu Lautan Nafsu, lantas Lautan Kebajikan , kemudian ia ditemukan dengan Lautan Sirri, lalu dilempar ke Lautan Qolamiyah, lalu Lautan Lauhiyah, kemudian Lautan Arsyiyah, lantas Lautan Kursy, kemudian Lautan Hijabiyah, kemudian Lautan Falakiyah. Ia dipertemukan dengan Lautan Sirri yang meliputi, kemudian dilempar ke Lautan Malakiyah, lalu ke Lautan Abalisah (keiblisan), kemudian Lautan Jinsiyah, baru ke Lautan Unsiyah.

Disana ia bertemu dengan Lautan Sirri, lalu dilemparkan ke Lautan Syurgawi, lalu Lautan Nirani (kenerakaan), kemudian dilempar ke Lautan Ihathah (keseluruhan yang meliputi) yaitu Lautan Sirri, lalu tenggelamlah di sana dalam ketenggelaman yang tidak keluar lagi selama-lamanya kecuali atas Izin-Nya. Bila Allah menghendaki ia diutus sebagai ganti dari Rasul yang menghidupkan para hambaNya. Jika Dia berkehendak lain, Dia menutupinya. Dia bertindak sesuai dengan kehendakNya.

Setiap Lautan dari Lautan-lautan itu, meliputi berbagai Lautan di sana, dimana jika orang yang Shaleh pengganti Rasul masuk di dalam Lautan paling kecil saja dari Lautan-lautan itu, pasti ia tenggelam di dalamnya dan tidak akan selamat lagi (mentas).

Semua itu merupakan gambaran Thariqat Umum dan Khusus. Hanya Allah Sendiri yang Terpuji.

Proyeksi yang dijadikan ilustrasi di atas sekaligus menggambarkan bagaimana tahapan spiritual, namun sekaligus juga maqam dan haal ruhani para Sufi. Lebih dari itu menggambarkan peta dunia metafisis dan struktur Wujud itu sendiri dalam perspektif teosofis.

Source :

Sabtu, 10 Juli 2010

Filsafat Jalan Miyamoto Musashi

oleh Lazuardi Adipradana Hasyim
Dilahirkan di sebuah desa yang bernamaMiyamoto di tahun 1584, Musashi terlahir sebagai Munasai Takezo. Masa kanak-kanak Takezo tidaklah bahagia. Ia tidak akur dengan ayah kandungnya, Munasai Hirata seorang samurai pemilik tanah. Takezo selalu melontarkan kritik pedas terhadap seni bela diri ayahnya, hingga menyebabkan ketiak akuran diantara ayah dan anak ini. Situasi yang demikian membuat Takezo kabur memilih meninggalkan rumah untuk hidup bersama pamannya yang saat itu usianya belum mencapai 13 tahun.
Tapi di usianya yang 13 tahun tersebut, Takezo sudah mampu menaklukkan seorang pendekar pedang Shito-ryu yang bernama Arima Kihei. Lawannya itu dirobohkan dan dipukulinya dengan tongkat hingga tewas. Kemudian pada usia 16 tahun, Takezo bertarung dengan seorang samurai tangguh dan kembali muncul sebagai pemenang. Mulai saat itu, Takezo memutuskan pergi bertualang mengikuti “Jalan Pedang”. Tak lama kemudian Takezo terlibat dalam perang habis-habisan antara kubu daimyo (tuan tanah) Ieyasu melawan klan Hideyori dengan para pengikutnya di pertempuran besar di Sekigahara.Dalam pertempuran selama tiga hari itu tercatat 70.000 orang tewas, Takezo sendiri di pihak pasukan yang kalah berhasil meloloskan diri.
Takezo kemudian bertemu dengan Soho Takuan, seorang pendeta Zen dengan kecerdikannya kemudian berhasil “menawan” Takezo di sebuah sel gelap di puri milik Ikeda. Di sana selama tiga tahun, Takezo ditahan untuk mendalami bertumpuk-tumpuk dan beragam buku. Mulai dari seni perang dari Sun Tzu, Taoisme, buku-buku mengenai Zen hingga ke berjilid-jilid kitab mengenai sejarah Jepang. Pendeta Takuan, selalu bersikap keras itu menasihati Takezo yang terkenal bandel dan liar itu hingga mau patuh menjalani penggemblengan berat tersebut. Salah satu nasehatnya adalah;
“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama, lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan ataukah kamar penuh cahaya”.
Setelah melewati masa pembelajaran tiga tahun, Takezo mendapatkan pencerahan dan dibebaskan dan boleh berkelana lagi. Saat itu usianya 21 tahun, Takezo memulai kehidupannya kembali sebagai Miyamoto Musashi.
Dalam pengembaraannya Musashi kembali bertemu dengan lawan tarung yang bukan sembarang pendekar samurai, mereka adalah para pendekar samurai terkemuka dari berbagai aliran yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Musashi dapat mengatasi mereka satu per satu walaupun ia tidak mempunyai guru atau mewarisi ilmu pedang dari satu aliran tertentu. Ilmu pedang Musashi diperoleh secara otodidak dan bakat alami yang sangat istimewa yang diasah melalui kekuatan observasi, intuisinya dan disiplin yang kuat.
Beberapa duel yang dimenangkan oleh Musashi, banyak terdapat duel yang dianggapnya “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang tentunya tidak mematikan. Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak pandai bermain pedang adalah seseorang yang sangat pandai dengan bakat yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Pertarungan puncak bagi Musashi adalah saat menghadapi Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Kojiro pada zaman itu sosok pemain pedang yang ideal: garis keturunannya tidak ada aib dan guru-gurunya ternama; dan dengan pelatihan yang penuh disiplin, ia berhasil menciptakan teknik permainan pedang yang mengagumkan. Tapi pada akhirnya kepala Kojiro pecah oleh tebasan pedang Musashi pada pertarungan di Pulau Ganryu, 13 April 1612.
Pertarungan Musashi melawan Sasaki Kojiro merupakan titik balik baginya. Sebelum itu, dia menyakini bahwa kemampuan seni berperang adalah kunci kemenangan dalam setiap pertarungan. Tetapi setelah mengalahkan Kojiro, Musashi menyadari bahwa kekuatan dan ketrampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan;
“Ketika umurku sudah lewat tiga puluh tahun dan merenungkan kembali hidupku, aku sadar bahwa aku menjadi pemenang bukan karena kemampuan luar biasa dalam seni bela diri. Mungkin saja aku mempunyai bakat alami atau tidak menyimpang dari prinsip alami. Atau, bisa jadikah seni bela diri lawan itu yang memang mengandung suatu cacat? Setelah itu, dengan tekad jauh lebih besar untuk mencapai pemahaman yang lebih jelas mengenai prinsip-prinsip yang dalam, aku berlatih siang malam”.
Lalu, apa yang memungkinkan Musashi mengalahkan Kojiro jika bukan karena penguasan ketrampilan bertarung? Bagi Musashi, kemenangan sebuah pertarungan terletak pada prinsip atau semangat, bukan tipuan dan ketidakjujuran. Di dalam Kitab Lima Lingkaran, Musashi menulis:
“Jalan seni adalah langsung dan benar, jadi kau harus dengan tegas berusaha mengejar orang-orang lain dan menundukkan mereka dengan prinsip-prinsip sejati”.
Setelah pertarungan itu Musashi memutuskan mundur dari pertarungan, karena rasa bersalahnya sampai membawa kematian lawannya. Musashi kemudian menetap di pulau Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari pemahaman sejati dengan menapaki paruh kedua kehidupannya untuk menjadi seorang seniman dan menjadi terfokus untuk mendalami semua seni. Di masa tuanya Musashi dikenal sebagai seniman dengan banyak kebisaan. Melukis dengan tinta india, kaligrafi, hingga membuat patung. Lagi-lagi seperti kemampuannya bermain pedang, kematangan seninya pun diperolehnya dengan tanpa guru. Buah karyanya dianggap hidup dan indah, hasil dari penyaluran energi batin yang terfokus. Sepertinya kalau inti dasar kehidupan sudah diketahui, kerja yang lain juga dapat dipahami.
Dalam kehidupannya sebagai seorang seniman, ia menulis puisi, mendesain taman, aktif dalam upacara minum teh, mempelajari drama Noh, dan terutama menciptakan lukisan-lukisan tinta dan kaligrafi. Karya seni Musashi berkelas tinggi, menunjukkan bahwa di bidang ini ia juga berbakat istimewa sekalipun menurut pengakuannya lukisan dia belumlah setara dengan teknik pedangnya. Jelas ada upaya mempertautkan antara seni rupa dan seni bela diri, hingga dikatakan, Musashi melukis dengan pikiran pedang. Intens, terkonsentrasi, dan penuh getaran chi. Ia mempunyai keyakinan dan melihat adanya kesejajaran, seperti dalam ucapannya, Dengan prinsip-prinsip seni bela diri, orang membuka jalan bagi seni serta pencapaian lain dan tidak akan keliru memahami keduanya. Pedang, seni, Zen, dan meditasi menjadi satu kesatuan yang saling mengisi, menggenapi, dan karenanya tak terpisahkan.
Musashi juga kembali mendalami ajaran Zen yang nampak dari prinsip dasar satu ini, Musashi senantiasa menekankan mutlaknya memperoleh pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung. Tidak dapat disangkal lagi, pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung merupakan salah satu sendi utama yang dijunjung tinggi Zen, jauh di atas yang lain, misalnya teori. Juga ungkapan pikiran sehari-hari yang alami adalah khas Zen;
“Bebaskanlah pikiranmu, maka niscaya pikiranmu akan menjadi alami.”
Selain Zen, Musashi tampak sekali menghargai tetapi mempertanyakan ajaran Sun Tzu, yang merupakan ahli strategi terbesar sepanjang masa. Terdapat perbedaan pendapat menurut Musashi dan Sun Tzu, dimana Musashi lebih mengutamakan strategi permainan bersih-sekalipun keras dan tegas, tetapi tidak licik atau kotor, menyimpulkan;
“Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.”
Musashi adalah seorang penyendiri, karena sampai akhir hayatnya ia memilih untuk hidup membujang, bahkan memilih jalan kematiannya sendiri. Menurut Musashi kematian adalah sebuah konsekwensi bagi setiap kehidupan. Karena itu saat menyadari bahwa maut akan segera mendatanginya, Musashimemilih Gua Reigan sebagai tempat tuk menyambut kematiannya dengan damai dan sendirian. Saat itu, awal musim semi tahun 1645, Musashi tidak lagi sebagai orang yang kuat, upaya pendakian bukit menuju ke gua itu dicapainya dengan tubuh sangat kesakitan. Suatu hari salah seorang mengirim tabib ke Gua itu, tetapi Musashi tetap berkeras untuk menyambut kematian dengan gayanya sendiri. Tak tega akan keadaan kesehatannya gurunya itu, sang murid kemudian berangkat kepegunungan, pura-pura berburu dengan burung rajawali, dan mampir ke Gua Reigan. Disana dia telah mendapati Musashi dalam kondisi yang sangat lemah dan dia tidak mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Akhirnya, tanpa mempedulikan protes-protes Musashi, sang murid berhasil “membujuk” gurunya itu pulang ke rumah.
Dalam penyepian sebelum kematiannya itu Musashi berhasil menyelesaikan bukunya yang berjudul Kitab Lima Cincin (Go Rin no Sho) yang menunjukkan semua pencarian dan pencapaian spiritual serta jawabannya tentang bagaimana menemukan dan mengamalkan jalan. Ada sembilan sila yang ditawarkan Musashi untuk kita semua :
1.Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.
2.Bentuklah dirimu sendiri di jalan (yang benar).
3.Pelajarilah semua seni.
4.Pahamilah jalan semua pekerjaan.
5.Pahamilah keunggulan dan kelemahan dari segala sesuatu.
6.Kembangkan mata yang tajam dalam segala hal.
7.Pahamilah apa yang tidak terlihat oleh mata.
8.Berikan perhatian bahkan pada hal-hal terkecil sekalipun.
9.Jangan melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak realistis.
Dalam 62 tahun, tanggal 19 Mei 1645, Musashi menutup mata untuk selamanya di komplek Puri Chiba yang tua. Seperti yang di pinta pada detik-detik terakhirnya, tubuhnya didandani dengan seragam dan helm tempur, dilengkapi dengan enam tanda kebesaran militer, dan ditempatkan dalam peti. Sesuai dengan janji sebelumnya, Musashi kemudian dikebumikan di Kyushu tempat penyepiannya yang terakhir. Setelah selesainya upacara pemakaman yang di pimpin oleh Biksu Kepala Shunzan, terdengar suara guntur bergema di langit yang cerah sebanyak satu kali. Dan entah adakah itu pertanda bahwa Musashi sedang bertarung melawan malaikat maut di sana? Atau sang maestro pedang itu kembali bertarung kembali melawan roh musuh-musuhnya di alam sana?
Kesimpulan :
1.Menemukan dan Menciptakan Jalan
”Jalan” dalam bahasa Cina disebut dengan “Tao” dan dalam bahasa Jepang disebut “Do”. Seperti halnya akhiran –do yang biasa ada di aliran-aliran bela diri seperti kendo, aikido, karate-do, dan lainnya. Itu menandakan bahwa bela diri tersebut bukan sekadar bela diri saja, tapi juga disiplin dan jalan hidup. Makanya rata-rata beladiri tersebut filosofinya sangat dalam. Akhiran –do banyak dipakai di bela diri yang juga menunjukkan cara hidup. Sering disebut hidup sesuai jalannya, akan mengantar pada kebahagiaan dan sebuah petunjuk untuk hidup yang benar.
Bagaimana caranya menemukan jalan? Jalan dapat ditemukan dengan meniru, mencari, dan menemukan. Tetapi jika memodifikasi dan mencampurnya dengan elemen diri, dan jadilah jalan kreasi kita. Musashi, yang tak punya guru dan tak pernah belajar secara khusus pada seorang guru pun, menempuh jalannya sendiri, juga ternyata terpengaruh oleh Sun Tzu, biksu Zen Takuan Soho, samurai hebat Yagyu Munenori, dan kitab hsinhsinming. Jadi, yang ditemukan Musashi (the book of five rings) sepertinya adalah campuran ajaran Zen dari Takuan dan kitab Hsinhsinming, seni perang Sun Tzu dan keahlian Yagyu, ditambah, diaduk-aduk, dieksperimenkan dengan keseluruhan pengalaman pribadinya.
Musashi sebenarnya lebih layak untuk disebut sebagai seorang otodidak. Musashi membimbing dirinya sendiri untuk mendalami berbagai macam ilmu. Salah satu sumber yang banyak ditimbanya niscaya adalah buah pikiran Sun Tzu.Dikenal sebagai ahli strategi besar-kalau bukan yang terbesar-Sun Tzu hidup hampir 2000 tahun mendahului Musashi (400-320 tahun sebelum Masehi);
“Saya suka berpikir betapa hebatnya orang-orang kuno seperti Lao Tse, Konfusius, Socrates, Sun Tzu, sementara kebanyakan dari kita yang hidup pada milenium ketiga ini cuma segini-gini saja.”
Kalau Musashi mendekati strategi melalui contoh-contoh dari tarung-tanding (duel), Sun Tzu lebih membahasnya lewat skenario peperangan. Ada beberapa kalimat dari kitab Seni Berperang (The Art of War) Sun Tzu yang amat membekas di hati Musashi. Selama tiga tahun dalam masa penempaan, Musashi kerap membacanya secara lantang berulang-ulang dengan alunan bagaikan nyanyian;
“Barangsiapa mengenal seni perang, tak akan serampangan ia dalam gerakannya. Ia kaya karsa dalam membatasi kemungkinan.”
“Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barangsiapa mengenal langit dan bumi, ia menang atas segalanya.”
“Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri dan kemenanganmu tak akan terancam. Kenali medan, kenali iklim, maka kemenanganmu akan lengkap.”
Yang lebih menarik lagi, dalam kemampuannya untuk membaca waktu. Setelah mencapai usia 29 tahun, ia memutuskan untuk berhenti menjadi petarung. Kemudian Musashi mentransformasikan dirinya menjadi seniman dan pada usia yang lebih lanjut Musashi kembali memutuskan untuk menjadi pemikir mengenai Jalan Strategi. Keputusannya untuk pindah jalur dan beralih profesi pada saat yang tepat itu memang memerlukan ketajaman intuisi yang luar biasa. Agaknya, ini juga yang membuat Musashi menjadi petarung kehidupan yang tak terkalahkan. Musashi mengatur dan bukannya diatur oleh waktu kehidupan.
2.Keteguhan Hati Mengamalkan dan Menjaga Jalan
Memang lebih mudah untuk menjadi peka, menjadi arif dan penuh perenungan ketika kita dalam posisi yang penuh kesusahan dimana sendi-sendi harga diri kita dibenamkan dan segala kesombongan diruntuhkan. Mudah untuk memahami bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, benda-benda dan penghargaan kita akan arti hidup itu sendiri. Mudah pula untuk menyadari akan kebeningan cita-cita.
Yang tidak mudah adalah untuk tetap konsisten pada pencapaian nurani tersebut. Tidak mudah untuk terus menjaga visi kita yang paling menggebu-gebu sekalipun. Perubahan lingkungan, kemudahan-kemudahan, orang-orang yang berbeda lambat laun dapat melunturkan pencapaian nurani. Pada prosesnya, akan muncul riak-riak yang mengganggu yang mengurangi kadar pemikiran dan tindakan kita.
Musashi pun mengalami naik turunnya semangat dalam mewujudkan jalan pedangnya. Cita-cita yang menjadi visi hidupnya. Musashi sempat terjebak dalam kesombongan sesaat ketika bertemu orang-orang yang terlihat lebih lemah. Jalan pedang seolah-olah menjadi jalan paling berarti dan dalam perjalanannya Musashi banyak mengabaikan unsur-unsur lain di luar dirinya. Musashi kemudian sadar dan berusaha membentuk jalan pedang dengan lurus-lurus pada keyakinan dirinya, menekan segala perasaan lembutnya dan satu hal yang menyelamatkannya dari bahaya keangkuhan adalah keinginannya untuk membuka pintu-pintu ilmu dan belajar dari segala macam orang, segala macam bentuk dan alam semesta.
Dalam kehidupan ini, bukan sekali kita merasakan naik turunnya iman, naik turunnya semangat baik dalam bekerja, menjaga hubungan, dan meraih mimpi-mimpi kita. Bukan sekali dua kali pula kita terjatuh dan kembali pada kebeningan pencapaian nurani. Terlalu dini untuk menyimpulkan jalan pencapain nurani, ada banyak visi dan lebih banyak konsistensi yang akan diperlukan.
Walaupun begitu, ada hal-hal menarik yang agaknya dapat dipelajari dari Musashi. Musashi adalah seorang yang sederhana, rendah hati yang bermain bersih tanpa kecurangan. Musashi keras hati dalam melatih diri dan dalam menimba ilmu berbagai aliran, karena Musashi menyadari bukannya tak mungkin terkalahkan. Musashi selalu menekankan pentingnya timing (ketepatan waktu) dan ritme dalam segala hal. Masuk terlalu cepat atau terlalu lambat dalam pertarungan dipandangnya dapat mengundang persoalan tersendiri. Kemudian perubahan yang terjadi di “langit” dan “bumi” bukan saja harus dicermati melainkan mesti pula diadaptasi untuk keselamatan diri. Juga baginya ilmu pengetahuan itu adalah sebuah “lingkaran bulat”. Artinya, kalau kita bermula dari titik A, setelah melingkar penuh kita akan kembali ke titik A semula. Apa yang dianggap paling elementer adalah juga pelajaran yang paling penting.
Sumber Bacaan:
1.Musashi, Eiji Yoshikawa, Gramedia – Jakarta
2.The Lone Samurai, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta
3.The Book of Five Rings, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta

lazuardism.blog.friendster.com/2008/10/filsafat-jalan-miyamoto-musashi/